
Hidup adalah kumpulan paradoks. Yang masing – masing komponennya akan terus bertentangan sepanjang kehidupan itu masih berjalan. Benar-salah, kaya-miskin, bahagia-sedih, puas-kecewa. Dari setiap paradoks itu, manusia akan mengambil satu jalan. Jalan apa itu? Hanya manusia yang memiliki eksistensi yang mampu memilihnya. Bukan kawanan, kelompok ataupun fraternity. Manusia adalah subjek kehidupan.
Gambar di atas hanyalah salah satu contoh kasus paradoks. Kedua panda di atas adalah contoh kawanan. Sebagai kawanan, apa yang mereka lakukan itu tidak berarti apapun jika keduanya tidak memiliki kesadaran atas apa yang mereka lakukan. Jika panda yang di bawah tidak sadar dan mengerti esensi dia berada di posisi yang tidak menguntungkan itu maka dia sebagai kawanan hanyalah boneka mekanisitis. Begitu pula dengan panda yang berada di atas jika dia hanya mampu berpikir bahwa dia sudah semestinya berada di atas tanpa berusaha mencari tahu bagaimana caranya membantu panda yang di bawah dengan posisinya yang menguntungkan itu, sama artinya dia telah terjebak dalam kungkungan abstraksionisme. Tidak semestinya manusia yang memiliki eksistensi teralienasi oleh ruang, waktu maupun pikirannya sendiri. Manusia yang bereksistensi mampu menempatkan diri dalam dimensi fisik dalam kesadaran yang dinamis seperti halnya kesadaran yang timbul ketika dia tengah berpikir. Dan eksistensi manusia tidak akan memiliki arti apa - apa tanpa adanya imbalan pada kehidupan.Eksistensi itu untuk kehidupan.
Urusan Tuhan biarlah Tuhan yang mengurus, urusan manusia biarlah manusia yang mengurus. Dan urusanku biar saya sendiri yang mengurusnya. (Hermeneutik)
No comments:
Post a Comment