Saya sedang dalam suasana tidak kreatif. Jadi saya posting saja tulisan yang saya plagiat dari situs tempointeraktif.com.
Tulisan yang yang saya plagiat ini merupakan suatu refleksi spiritual terhadap dunia media sosial yang sudah menjamah hampir semua lini kehidupan. Hanya orang-orang yang tinggal di daerah tak berinternet seperti dasar laut dan lubuk batu yang tidak terjamah yang bisa bebas dari penjajahan media sosial. Jenis penjajahan baru ini berhasil menyita hampir semua waktu orang-orang yang terjajah oleh media sosial. Dan hebatnya, penjajahan ini justru disukai oleh semua pihak yang terlibat di dalamanya. Para developer terjajah oleh para pengguna yang meminta terus inovasi, sedangkan para penggunanya terjajah oleh keinginan untuk terus bersosialisasi, keinginan untuk terus eksis, keinginan untuk terus narsis, keinginan untuk terus diperhatikan dan sejuta keinginan lain.
Karena dunia media sosial sudah mencapai taraf yang tak dapat dielakkan lagi, akhirnya semua pihak yang terlibat di dalamnya berusaha untuk menarik semua yang ada di dalam nyata agar bisa hidup di dunia jejaring sosial. Spiritualisme termasuk di dalamnya.
Sebenarnya saya masih ingin berbicara panjang lebar mengenai katarsis, spiritualisme, jejaring sosial dan sejumlah omong kosong lainnya.Namun berhubung sedang dalam suasana tidak kreatif, jadi silahkan saja baca tulisan yang saya plagiat di bawah ini. Itu kalau Anda berkenan.
Tuhan tak Main Facebook
Di Facebook saya mencari Tuhan. Setelah memasukkan kata “Tuhan” di kolom pencarian, muncul sebuah akun. Tapi itu bukan milik-Nya (dengan N kapital), melainkan kepunyaan sebuah band dari Turki. Entah apa arti tuhan dalam bahasa Turki, karena di kamus online saya tak menemukannya.
Kalau pun ada Tuhan di Facebook, itu adalah akun dan fanpage yang dibuat oleh para penggemar Tuhan. Hal yang sama terjadi di Twitter.
Saya gagal mencari Tuhan di dunia maya.
Mungkin Anda bertanya, kenapa saya iseng mencari Tuhan di jejaring sosial, meski semua orang waras tahu, pencarian itu akan gagal. Keisengan itu muncul karena saya tergelitik sejumlah status (FB, Yahoo! Messenger, BlackBerry Messenger, dan tweet) dalam bentuk doa.
Kenapa orang berdoa di Facebook dan Twitter, jika Tuhan tak ada di media sosial?
Tergelitik, karena menurut guru agama saya dulu, permohonan kepada Tuhan harus disampaikan dalam hening. Doa adalah dialog pribadi antara kita dan Dia. Tapi, kini, kita melihat begitu banyak doa berseliweran di dunia maya dan bisa dibaca oleh jutaan orang. Mereka mungkin berharap, Tuhan akan membaca status atau tweet itu dan mengabulkannya.
“Kenapa tidak?” kata seorang teman yang kerap berdoa di Facebook. “Tuhan Maha Mendengar, Dia pasti juga tahu apa yang kita sampaikan lewat media online.” Benar, tapi apa perlunya? Kenapa tidak disampaikan dengan khidmat dan khusuk? “Soal kekhusukan, itu tergantung niat,” kata teman lainnya. “Kalau kita menulis status atau tweet itu dengan khusuk, apa salahnya?”
Tentu tak salah, tapi jawaban itu tidak memuaskan. Hanya berkelit dan terkesan defensif. Tak puas dengan jawaban-jawaban (yang sepertinya kurang jujur itu), saya memutuskan untuk menganalisis doa-doa tersebut. Dan hasilnya, tidak terlalu mengejutkan.
Sebagian besar doa itu berisi pengumuman. Misalnya, “Terima kasih Tuhan, Kau telah melancarkan urusanku ini.” Meski berbentuk doa, sebenarnya mereka hanya ingin mengatakan kepada dunia bahwa dia telah berhasil melakukan suatu pekerjaan. Dengan membuat status berbentuk doa, mereka mungkin berharap pengumuan itu tidak terdengar pamer keberhasilan.
Model itu sama dengan model keluh kesah, seperti “Ya Allah, hari ini terasa berat, ringankanlah bebanku.” Dengan doa seperti ini mereka sebenarnya ingin berbagi dengan orang lain. Yang mereka harapkan adalah komentar dari teman-teman: “Sabar ya bu/pak…”
Yang agak aneh sebenarnya adalah menjadikan Tuhan sebagai “sasaran antara” untuk menyentil orang lain. Misalnya, “Tuhan, sadarkanlah dirinya.” Penulis status ini jelas ingin agar orang yang dituju membaca doa itu dan terusik. Biasanya, komentar dari teman-teman mereka akan berbunyi: “Siapa sih dia?” Dan penulis status akan menjawab: “Ada deh…”
Tentu saja, pemilik akun itu sah-sah saja menulis status apa pun. Akun-akun dia, apa hak kita melarangnya? Tapi, saya kok masih percaya, Tuhan lebih mendengar doa yang disampaikan secara lirih dan dalam kesepian. Bukan di media sosial yang berisik.
–Pernah dipublikasikan di U-Mag edisi Januari 2010
diambil dari sini
-sumber gambar: www.snbz.net
No comments:
Post a Comment